Aku ingin bercerita tentang sebuah kisah. Kisahku bersama teman dekatku di sekolah. Dan dari kisah ini aku bisa mendapat pelajaran yang sangat berharga. Aku lupa kejadian ini kapan tapi kisah ini kalau tidak salah sekitar bulan April atau bulan Mei 2009. Entahlah yang terpenting bagaimana isi kisah ini.
Saat itu aku mendapat liflet tentang lomba tampilan koran dari salah satu koran di Bandung. Aku langsung tertarik, dan aku mengajak kedua teman sekelasku. Syukur mereka mau ikut ajakan ku. Aku beritahukan nama samaran temanku ini saja ya! Namanya Ririz dan Lia.
Saat aku menerima liflet itu, kami sedang sibuk mempersiapkan program kerja tahunan dalam organisasi yang kebetulan kami ikuti bersama. Ririz sebagai ketua pelaksana dalam acara ini, Lia sebagai anggota seksi pubdok dan aku menjadi bendaharanya. Dan di hari itu juga ada technical meeting lomba tampilan koran. Tapi walau sibuk kami masih bisa membagi waktu.
Kita datang ke technical meeting itu dengan semangat, tapi kita sedikit pesimis saat melihat perwakilan sekolah lain yang begitu banyak dalam satu timnya. Kemudian Ririz mengajak satu teman kami lagi yang sekelas dan seorganisasi pula, namanya Tari.
Setelah technical meeting itu, aku dan teman - teman membagi tugas. Tugas yang kita kerjakan harus selesai kurang dari 3 hari. Karena lomba tampilan korannya 4 hari setelah technical meeting. Aku tugasnya menjadi reporter, Ririz membuat resensi, tari mendapat tugas untuk membuat artikel dalam headline, sedangkan Lia membuat karikatur dan menjadi layouternya.
Keesokan harinya kami mulai mencari sumber dan mengerjakan tugas masing-masing. Tak lupa juga dengan tanggung jawab kami dalam acara yang telah ku jelaskan di awal. Setelah 3 hari terlewati begitu cepat, dengan keletihan kami, kami mengumpulkan tugas dan menyusunnya bersama sehari sebelum hari- H. kami mengerjakan di rumah Lia, karena di rumah Lia ada komputer sekaligus dia sebagai layouter. Kebetulan saja komputer di rumah aku dibawa kakak ke luar kota.
Tapi saat pengerjaan itu aku masih ada tugas yang belum sempat ku kerjakan, jadi aku harus pergi untuk mewawancarai teman – teman di sekolahku. Belum lagi Ririz yang sibuk mengikuti bimbingan belajar. Mau tidak mau tugas penyusunan dan pengetikan diserahkan pada Lia dan Tari.
Malam hari aku kembali ke rumah Lia, aku melihat mereka masih mengetik artikel - artikel yang terkumpul. Aku segera membantu mereka. Karena aku dipercayakan mereka untuk mengatur letak - letak artikel, aku berhenti membantu. Sebenarnya kalau dipikir kami mengerjakan semua dengan santai. Jam 11 malam saja kami masih bercanda. Untung saja perlombaan dimulai jam 14.30 WIB besok, setidaknya pagi masih bisa melanjutkan.
Paginya aku kembali ke rumah Lia. Aku kembali membantu. Aku melihat jam dan tak ku sangka sudah jam 12 siang. Aku bingung semua belum selesai. Ririz dan Tari pergi ke tempat perlombaan lebih dulu, sementara aku dan Lia menyelesaikan yang belum.
Aku terus berdoa dalam pengerjaan yang begitu mendadak. Disela itu, aku mau sms teman dan kebetulan di rumah Lia tidak ada signal. Akhirnya ku pinjam HP dia untuk ikut sms.
Tanpa sengaja aku membuka outbox HP dia. Tiba – tiba aku menangis di depan Lia, Lia sempat bertanya mengapa aku menangis. Dan aku tidak mau menjawab. Aku masih ingat isi sms dia di outboxnya yang ditujukan pada pacarnya.
Ayank, kesel ih enggak ada yang ngebantu. Lia ngerjain sendiri dong.
Sontak aku kaget dia bisa bilang seperti itu. Walau lewat sms tapi kata – katanya sungguh menusuk hatiku. Tapi sampai saat ini aku belum bilang tentang sms ini pada siapa pun. Aku akan tetap memendamnya. Aku melihat jam kembali dan ternyata sudah jam 14.30 , padahal perjalanan menuju tempat lomba sekitar 1 setengah jam.
Aku dan Lia berangkat dengan hasil apa adanya. Kami seperti orang gila, tertawa di perjalanan. Akhirnya sampai tepat jam 15.30 WIB, walau terlambat kami tetap mengerjakannya dengan tenang.
Jam 16.00 WIB berakhir waktu perlombaan. Kami beristirahat, tapi kami pun memasang raut muka yang kecewa. 2 jam sudah kami lewati untuk menunggu, sampai akhirnya pemenang diumumkan, ternyata kami belum mendapat kesempatan untuk menang. Tapi aku tetap bersyukur karena bisa mendapat pengalaman dan perjuangan.
Setelah aku pulang dan sampai ke rumahku, aku merenungkan isi sms dari outbox Lia tadi. Sekarang aku menyadari bahwa aku harus menolong dan membantu dengan ikhlas tanpa mengeluh, seberat apa pun itu. Dan aku tidak mau membuat sakit hati orang yang telah ku bantu karena ketidak ikhlasanku.
Esoknya, aku berterimakasih pada mereka dan meminta maaf atas salahku. Syukur mereka mau menerima, tapi belum tahu dengan Lia. Hanya saja aku harus tetap berpikir positif kepadanya.
Kini aku selalu membantu sesama dan berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dengan ikhlas. Dan aku tetap tersenyum pada diri sendiri dan pada orang lain.
Terimakasih Allah. Kau membuatku tersadar dengan kejadian ini lebih tepatnya dengan aku membaca sms temanku. Terimakasih juga pada teman - temanku. Selama ini aku bisa belajar tentang hidup karena kalian juga.
tak selama nya yang kita tolong akan menolong kita,,tetapi yang pasti akan ada yang menolong meskipun orang yang kita tidak kenal sama sekali :) ikhlas adalah upah yang tak ternilai
BalasHapussetuju teh..
BalasHapuswalau kadang keikhlasan itu sedikit sulit :)