Sabtu, 07 Januari 2012

Pesan Terakhir (cerpen lama)


Oleh: Farah Yuval Syahriar

“Ibu, ibu enggak apa-apa kan? Enggak ada yang sakit kan bu?”
            “Ibu tidak apa-apa nak.”
            “Tapi ibu seperti yang sesak nafas, Agung takut bu. Agung panggil ayah untuk masuk ya bu.”
            “Tidak perlu sayang. Nak, ibu minta kamu menjadi anak yang baik, berguna untuk semua orang. Satu lagi pesan ibu, ingatlah nak kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang diberkahi. Nak, ibu sudah tidak kuat.”
            Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut.
            “Ibu, ibu, bangun ibu. Mengapa ibu mengeluarkan air mata? Ibu mengapa enggak bergerak? Ayaaaah….!”
                     
            Penyakit kanker hati yang bersarang pada ibuku, telah mengakhiri kisah hidup almarhumah ibuku seminggu yang lalu. Aku belum bisa melupakan almarhumah ibuku dan enggak akan pernah bisa. Dan aku akan selalu ingat pesan terakhir almarhumah ibuku, beliau mengatakan bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang diberkahi. Sebenarnya aku kurang mengerti apa maksud dari pesan terakhir almarhumah ibuku itu. Tapi entahlah terkadang aku malas untuk memikirkannya.
 Hari ini aku harus kembali ke sekolah, setelah seminggu aku menenangkan diri. Mulai hari ini dan untuk ke depannya aku harus bersikap baik.
“Pagi kawan! Pagi ini cerah ya?”
“Pagi Gung, iya ni secerah wajahmu kini. Kita-kita kangen sama kamu. Kabarmu baik kan?”
“Thanks friend! Aku baik kok. Kalian bagaimana kabarnya? Udah lama enggak kumpul bareng lagi dengan kalian. Kok Thomas enggak kelihatan dari tadi?”
“Aku sama Indra baik-baik aja. Tapi Thomas sakit demam berdarah. Dia enggak masuk sekolah dari 3 hari yang lalu.”
“Apa? Kalian sudah menjenguknya?”
“Ah, kayak yang loe enggak kenal gue sama Robby aja. Kita kan cuek. Kita barengan sama Thomas ngejenguk loe aja hanya sekali.”
“Iya aku hargai kedatangan kalian waktu itu, tapi aku akan lebih menghargai jika kita menjenguk kawan kita yang terbaring sakit.”
“ Okay kita turutin kemauan kamu. Setelah pulang sekolah kita langsung ke rumah Thomas.”
“Ya sudahlah gue ikut-ikut aja. Tapi loe jadi aneh, berubah jadi orang yang peduli.”
Kawanku saja aneh dengan sikapku, aku pun seperti itu, aneh dengan sikap ku tadi. Tapi perubahan ini ku lakukan demi almarhumah ibuku. Ibu walau kau jauh di alam sana, aku tetap ingin membahagiakan kau. Ibu, mudah-mudahan ibu senang dengan proses perubahan ku. Ibu, Agung rindu dengan ibu. Agung ingin menangis tapi Agung menahannya.
                     
“Gung, udah bel pulang tu, jadikan kita jenguk Thomas?”
“Jadi dong Rob.”
Aku bingung mau bawa oleh – oleh apa. Biskuit dan kue, Thomas tidak suka. Buah – buahan mungkin dimakan sama Thomas enggak ya? Ibu tolong bantu Agung berpikir bu. Aha kenapa enggak jus jambu batu aja.
“Indra, Robby kalian duluan aja, nanati aku menyusul.”
“Mau kemana kamu?”
“Aku mau beli sesuatu dulu sebentar.”
“Baiklah kita akan tunggu di depan gerbang.”
“Robby, kenapa kita enggak duluan aja sih? Kan menunggu hal yang menyebalkan.”
“Indra, tega banget kamu, dia kan teman kita juga.”
“Pasti menunggu lama. Eh, itu dia datang, akhirnya.”
“Maaf ya kawan lama menunggu.”
“Iya enggak apa – apa.”
“Ayo let’s go! gue males kalau berlama-lama.”
                     
            Thomas gimana kabarmu? Maaf ya kita baru sempat jenguk kamu.”
            “Santai saja gung, kalian datang saja  saya sudah senang. Beginilah keadaan saya sekarang. Masih sedikit sakit dan pegal – pegal badannya. Terimakasih kalian sudah menyempatkan untuk datang menjenguk saya.”
            “Ah loe bilang terimakasih ke kita kayak ke orang lain aja.”
            “Thomas, ini kita membawa jus jambu batu untuk mu. Diminum ya!”
            “Kita? Kenapa kamu bilang kita?”
            “Sst, diam turuti kata ku aja.”
            “Terimakasih, maaf sudah merepotkan, sekarang saja saya minum ya. Sepertinya jus ini segar.”
            Allah, apakah ini kebaikan juga? Aku tak mengharap imbalan atas hal yang telah ku lakukan Ya Allah. Aku hanya ingin ibuku bahagia dengan hal yang ku lakukan.
            “Hei, loe melamun aja. Mikir apa sih? Si Thomas udah tuh minum jusnya.”
            “Eh maaf kawan. Thomas kita enggak bisa lama – lama masih ada sedikit urusan. Enggak apa – apa kan?”
            “Oh begitu, iya tidak apa-apa, sekali lagi terimakasih.”
                     
            “Robby, Indra makasih udah mau temani aku jenguk Thomas.”
            “Lain kali loe kasih imbalan dong.”
            “Ih, ni anak enggak ikhlas terus.”
            “Ya udah aku juga ada urusan lain di rumah. Sampai besok, daah.”
            Hari ini aku telah berbuat satu kebaikan untuk orang lain, akankah esok aku bisa berbuat kebaikan? Mudah – mudahan aja. Rumah ku cukup jauh, aku harus berjalan menelusuri kebun, dan rumah – rumah penduduk. Aku lapar ni, uangku berapa lagi ya? Syukur masih ada 10ribu, di ujung jalan nanti aku beli makanan dulu.
            Begitu sempurnanya alam di sekitarku. Sepanjang perjalanan aku terhibur dengan pemandangan walaupun hanya kebun. Allah begitu Agung dan sangat adil. Ibu, hari ini aku merasa sangat bahagia.
            “Tolong dek, kakek tidak  kuat.”
            “Kakek, awas jatuh. Kakek kenapa?”
            “Kakek lapar dan haus dek, kakek sudah tidak kuat berjalan lagi.”
            “Sebentar kek, Agung punya air minum. Ini kek airnya. Setelah kakek minum kita makan di ujung jalan sana ya kek, nanti Agung papah kakek.”
            “Terimakasih dek, ade baik mau membantu kakek yamg dekil seperti ini.”
            “Sama-sama kek. Kakek enggak dekil kok, selama Agung bisa membantu, Agung siap membantu siapa saja. Ayo kek Agung papah kakek.”
            Aku ingin menangis saat aku mendengar kata-kata kakek yang sama dengan kata-kata terakhir almarhumah ibuku, tadi kakek itu bilang kakek sudah tidak kuat. Ibu, andaikan ibu ada di sisiku saat ini, aku akan menangis di bahu ibu.
            “Adek, sekali lagi terimakasih mau menolong kakek.”
            “Sama-sama kek. Kakek, Agung mau bercerita kek, ibu Agung meninggal  satu minggu yang lalu. Kakek mengingatkan Agung pada ibuku. Agung ingin menangis kek.”
            “Anak muda, menangislah. Menangis salah satu cara menghilangkan kegundahan hati.”
            “Iya kek, kakek sebentar lagi kita sampai di ujung jalan. Kakek masih kuat kan?”
            “Iya dek, uhuk, uhuk.”
            “Kakek istirahat dulu ya! Kakek batuk berdarah.”
            “Biar saja dek, ini sudah biasa. Ohok, ohok. Anak muda, berbuatlah kebaikan pada sesama, karena hal itu akan membawa kebaikan yang berkah untuk semua. Kakek tahu adek, uhuk, uhuk, berniat baik pada kakek, hal itu sudah merupakan kebaikan dek.”
            “Baik kek. Kek kita lanjutkan perjalanan lagi ya kek.”
            “Tidak, kakek benar-benar tidak kuat, ohok ohok. Ade tinggalkan saja kakek di sini. Uhuk, uhuk.”
            “Kakek, Agung tidak tega kek.”
            “Biarkan, anak muda jangan lupa, ohok, ohok, ohok, doakan selalu ibumu dan semua orang yang telah berbuat baik padamu. Sebenarnya doa dari orang –orang yang telah kamu bantu adalah berkah bagimu.”
            “Baik kek, Agung akan melanjutkan perjalanan sendiri. Maaf ya kek.”
            Allah maafkan aku telah meninggalkan  kakek itu. Aku tidak tega, aku harus sering melihat kearah kakek itu. Ibu, kini Agung mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibu. Agung  harus berbuat kebaikan kan bu? Agung juga mendapatkan ilmu baru dari kakek itu. Aku lupa aku harus lihat kearah kakek itu. Ada yang aneh, mengapa kakek itu terbaring dan tak bergerak? Mungkinkah?
            “Kakeeek. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kakek mengapa meninggalkan ku?”
                     
            Pertemuan ku dengan kakek 3 hari yang lalu membuatku mengerti pesan ibu, dan kini aku harus lebih baik lagi pada orang lain. Ibu, kakek, kalian lihat Agung sekarang kan? Agung mau menempuh hari ini dengan kebaikan lagi.
            Aku ke sekolah dengan berjalan kaki, aku mau lewat jalan raya aja sudah lama tidak kesana. Aku harus menyeberang. Menyeberang di jalan ini memang cukup sulit karena penuh dengan kendaraan. Lampu lalu lintasnya sudah tidak layak guna, zebra cross juga sudah pudar warnanya.
            “Agung awas!”
            “Aaaaaaargh…”
            “Agung, kamu tidak apa – apa?”
            “Thom, aku takut. Aku masih hidup kan?”
            “Kamu masih hidup, di sini rawan kecelakaan Gung. Kalau menyeberang hati –hati.”
            “Iya Thomas, memang tadi aku enggak hati – hati karena aku melamun.”
            “Syukur kamu tidak apa –apa, untung saja saya lihat kamu. Allah masih menyayangimu Gung. Mungkin karena kebaikan – kebaikanmu.”
            “Iya Alhamdulillah aku selamat. Terimakasih Thom, kamu telah menyelamatkan hidupku. Aku senang, mungkin ini adalah balasan atas kebaikan yang telah ku lakukan.”
            “Sama – sama Gung. Kalau kamu masih takut lebih baik kamu pulang ke rumah sekarang.”
            “Enggak, aku mau tetap sekolah.”
            Ku terharu atas kejadian pagi ini yang telah aku alami. Ternyata benar kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang berkah. Allah terimakasih Kau mau menyelamatkanku.
“Kawan – kawanku, ku harap kalian mengerti dengan kejadian ku tadi. Aku enggak mau kalian menyalah gunakan kebaikan orang lain dan aku ingin kalian bisa berbuat kebaikan selamanya.”
Ibu terimakasih atas pesan terakhirmu. Kakek aku juga tidak akan melupakanmu, karena kakek telah membuat ku mengerti akan kebaikan.

TAMAT
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar