Rabu, 11 Januari 2012

LDK (marah atau tegas?)

oleh Yuval Farah Aisyah pada 24 Oktober 2011 pukul 17:29


Ini adalah bahan perenungan pribadi saya sebagai orang yang mengkader dan ingin dikader kembali..bukan masalah dikader oleh siapa atau pengkaderan apa.
namun saya akan mengupas tentang proses pengkaderan

Latihan Kepemimpinan atau sering kita kenal dengan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) tampaknya memang sudah menjadi menu wajib dari santapan pengkaderan.karena memang tujuan dari LDK itu sendiri adalah developing leadership dan memotivasi munculnya kepemimpinan yang cerdas, disiplin, inovatif dan visioner. (tidak membatasi kriteria)

#copas....... http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150334733165069

Panitia pengadaan kegiatan ini pun berpikir keras untuk mengemas setiap aktivitas LDK menjadi sebuah kegiatan yang akan berpengaruh pada prospek ke depannya. Sehingga tanpa sadar aktivitas yang di adakan, cenderung seperti DEWANYA setiap kegiatan

Setelah saya mendapat curhatan dari teman-teman saya, dan adik kelas saya mengenai LDK di tempatnya, saya mulai berpikir tentang proses LDK.
Saya punya pertanyaan
"apakah yang dirasakan ketika LDK berlangsung? tegang? mengecam? disiplin? didominasi dengan amarah panitia? ketakutan? sanksi?"

Mungkin bagi banyak orang pertanyaan itu sesuai dengan yang telah dirasakan. tak ayal saya pun sebagai pengada dan atau peserta LDK merasakan hal yang sama. Terkadang saya pun sengaja mengemas LDK ala TNI (alhamdulillah hanya pemikiran tidak sampai diaplikasikan)

Beberapa kasus membuktikan, mayoritas LDK berisi amarah panitia dan banyaknya sanksi yang beberapa pointnya diada-adakan. tercap sebagai pengganti PASKIBRA (aspek baris-berbarisnya), berbau Pengadilan (hukuman yang bermacam-macam), dan seperti dalam kehidupan yang tertekan kerana peserta tidak boleh melakukan beberapa hal seperti mengkritik panitia.
Ingat peraturan yang lahir dari zaman dulu "point pertama, Panitia selalu benar. Point Kedua, Jika panitia salah lihat kembali point pertama."?mungkin untuk saat ini sudah jarang penggunaan peraturan seperti itu karena tidak sesuai dengan ajaran agama dan menyalahi HAM peserta.

Bahan perenungan ketika saya melihat banyak peserta yang pingsan, jatuh sakit, menangis ketakutan dsb saat LDK berlangsung memberikan tamparan bagi saya.Apakah LDK yang seharusnya mencetak pemimpin harus ternoda dengan keadaan yang menyedihkan?

LDK yang identik dengan panitia memarahi peserta (mengatas namakan TEGAS), panitia yang selalu benar, peserta yang mau tidak mau idem dengan panitia, memberikan beberapa dampak negatif yang jarang kita perhatikan.dampak psikologis pada peserta, yang mengakibatkan peserta stres, dan peserta memiliki sedikit rasa benci, bahkan ada pula yang menjadi keras dan atau berniat membalas dendam pada orang lain di LDK berikutnya. Hal ini harus segera kita benahi.

Peerbedaan marah dan tegas memang beda tipis. bahkan pada prakteknya sering kita tidak bisa membedakannya.
| Tegas adalah suatu bentuk sifat akibat dari suatu tindakan yang diambil dalam suatu keputusan, dalam banyak kejadian  terkadang aktifitas tegas ini memang tidak jarang diikuti aktifitas marah. Aktifitas tegas ini biasanya dikeluarkan setelah melalui suatu perhitungan atau analisa yang telah dilakukan.

Marah adalah suatu bentuk sifat akibat tidak sesuainya suatu kondisi yang diharapkan, akan tetapi dalam banyak kejadian aktifitas marah tidak selalu diikuti suatu keputusan. Aktifitas marah ini biasanya dilakukan secara spontan dan tanpa perhitungan atau analisa yang dilakukan. |
(copas)
http://firdausmadjid.blogspot.com

Beda sekali pemaknaan Tegas dan Marah seperti yang ditulis di atas.
Namun Ketegasan dan kemarahan ini tidak dilarang dalam LDK karena tujuannya memberi contoh pada para leader, bahwa sifat Leader itu harus memiliki KETEGASAN dan juga KEMARAHAN, dengan harus tahu dimana tempat tegas dan marah itu sendiri.

Nah, untuk saya pribadi di posisi sebagai panitia LDK akan menekankan prinsip Rasulullah dalam kebaikan
"bujuklah hingga ia mau, namun jika tidak mau maka marahilah ia, namun jika ia tetap tidak mau maka tamparlah"
(tolong ralat yah yang benarnya)
intinya, lakukan dengan lembut jika tidak mempan marahi jika tidak mempan juga paksakanlah dengan kekerasan namun masih dalam batas diperbolehkan-Nya.

LDK itu nggak harus marah-marah dan harus bisa membedakan TEGAS dan MARAH..yang penting esensi LEADERSHIPnya bisa diterima dengan baik oleh peserta, dan menjadikan kesan yang positif bagi peserta. Ketawa dikit tidak masalah kan? beri aktivitas yang membuat mereka banyak senyum tak salah kan?
Kalau dengan cara lembut bisa, kenapa cara kasar harus digunakan?? :)
Dibumbui kondisi mencekam sedikit, tak masalah kok. :)

Let's Develop Soul of LEADERSHIP in ourself!!
:)

Sharing ini di luar aktifitas pemberian materi seperti diskusi dan atau training.

Renungan Yuval
*segera berbenah diri agar cukup saya saja yang merasakan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar