Sabtu, 07 Januari 2012

Kasih Sayangku Selamanya Untukmu (cerpen lama)


Kasih Sayangku Selamanya Untukmu  
Oleh : Farah Yuval Syahriar


“Harus dirawat, dok?”
            “Iya, karena Dini anak ibu perlu perawatan intensif dan harus dalam pengawasan dokter jantung di rumah sakit ini.”
            “Baiklah dok, demi kebaikan anak saya, saya turuti kata dokter.”
            Perbincangan ibu sahabatku dan dokter di rumah sakit ini membuatku sedih. Dini yang selama ini aku anggap sahabatku ternyata punya penyakit jantung. Aku harus selalu menjaganya mulai saat ini.
            “Dini, aku akan di sampingmu selalu untuk menjagamu.”
            Ku bisikan kalimat itu pada Dini yang di kelilingi alat – alat medis yang aku tak mengerti untuk apa. Tiba – tiba saja Dini mengeluarkan air mata. Ternyata dia mendengar apa yang aku bilang.
                               
          Cukup sudah aku menangis semalam suntuk, kini aku harus tersenyum agar Dini bisa merasakan aura kebahagiaan. Aku melihat kembang kempis nafas dadanya, sungguh dia seperti yang berusaha keras untuk mengambil Oksigen.
            “Azam, kamu tidak bekerja hari ini?”
            “Azam kerja kok, bu. Tapi kerjanya sore. Jadi Azam bisa menunggu Dini sebelum pergi kerja.”
            “Sudah Azam istirahat dulu. Kamu terlihat letih. Dari malam sampai pagi ini kamu sudah menunggu Dini tanpa tidur, terimakasih ya nak.”
            “Iya, bu. Azam memang ngantuk. Nanti setelah Azam pulang kerja, pasti Azam kembali ke sini.”
                               
          Sudah empat minggu berjalan. Dini mulai membaik, dan alat – alat medis pun sudah bisa dilepas. Tapi Dini harus tetap dirawat di rumah sakit. Walau aku sebenarnya bosan melihat pemandangan rumah sakit, aku akan tetap menunggunya.
            “Syukur Din, kamu baikan.”
            “Iya Zam, aku juga bersyukur. Aku merasa bosan di sini terus, aku seperti yang dikurung. Terimakasih, selama aku dirawat kamu setia menungguku. Aku tahu setelah kamu pulang kerja kamu langsung menemaniku di sini. Zam, aku rindu dengan Irvan.”
            “Irvan? Cowok yang kamu suka itu? Ternyata kamu masih ada hati untuknya. Kenapa kamu tidak bilang perasaan kamu dari dulu?”
            “Aku malu, Zam. Bagaimana kabarnya ya? Kamu mau membantu aku untuk menyatakan perasaanku padanya?”
            “Kemarin aku sempat bertemu dengannya. Sepertinya dia baik – baik saja. Tapi dia belum tahu bagaimana keadaanmu sekarang. Sebagai sahabat aku bersedia membantumu.”
            “Terimakasih ya. Azam, lebih baik dia tidak tahu keadaan aku sekarang. Biar aku saja yang menanggung sakit ini. Zam, aku mau kamu membawa ku jalan – jalan sekitar rumah sakit. Aku bosan.”
            “Iya aku temani kamu jalan – jalan. Sebentar aku pinjam kursi roda dulu ya.”
            “Zam, ternyata di luar ruang rawat udaranya begitu segar. Aku merasa baru terlahir.”
            “Ya begitulah, Din. Setelah kamu diizinkan pulang aku akan mengajakmu ke tempat yang kamu mau.”
            “Benar Zam? Aku mau pergi ke rumah Irvan untuk melihatnya dari jarak jauh saja. Aku malu menemuinya.”
            “Sip, aku temani kamu. Sampai ke rumah Irvan pun akan aku temani.”
            Dini, kenapa sih kamu harus malu untuk mengungkapkan perasaan kamu pada Irvan? Aku tahu sebenarnya kamu tersiksa menahan perasaanmu dan sakit dalam tubuhmu. Dini, kau memang perempuan pemalu tapi tegar.
                               
           Seminggu berlalu dengan perkembangan Dini yang begitu bagus, sehingga dia dizinkan oleh dokter di rumah sakit ini untuk pulang dan dirawat di rumah. Akhirnya Dini bisa pulang juga. Aku bahagia melihat senyuman manisnya saat keluar dari rumah sakit ini, sungguh aku baru melihat dia tersenyum sembari mengeluarkan air mata tanpa isaknya.
            “Bu, boleh aku pergi menemui teman – temanku bersama Azam?”
            “Boleh saja, tapi Azam keberatan tidak? Apa tidak mengganggu waktu kerjanya.”
            “Tidak kok, bu. Dengan senang hati Azam mau menemani Dini. Azam juga sudah minta izin cuti sehari untuk menemani Dini di hari pertamanya keluar rumah sakit.”
            “Baiklah kalau begitu. Kalian boleh pergi, tapi jangan lama –lama dan hati – hati ya! Kalau ada apa – apa cepat hubungi ibu.”
            “Tenang saja bu, Dini sudah bukan anak kecil lagi kok. Dini tahu apa yang harus diperbuat dalam keadaan darurat. Jadi percayakan semuanya pada Dini dan Azam.”
            Dini, Dini kamu ada – ada saja. Bilang seperti itu pada ibumu sendiri. Din, aku melakukan semua ini tulus dari hatiku. Aku bersedia berbagi waktu untukmu, dan berbagi kasih sayang sahabat padamu. Mudah – mudahan kamu bahagia dengan apa yang aku lakukan ini.
            “Dini, sekarang kamu mau kemana?”
            “Aku mau langsung melihat Irvan. Kita ke rumahnya ya! Tapi dari jarak jauh saja.”
            “OK nona! Let’s go!”
            Dengan mobil biru dongker butut yang kuno ini aku antarkan dia kemana saja. Walau mobil butut ini sudah terlihat berkarat, aku tetap bangga bisa mengantarkan Dini, sahabatku. Aku jadi ingin tertawa saat mobil ini mau mogok. Untung saja tidak jadi mogok.
            “Din, kita sudah sampai. Sepertinya yang di depan pintu itu Irvan.”
            “Mana? Oh iya, itu Irvan. Akhirnya aku bisa melihat Irvan juga walau agak samar karena jarak jauh.”
            “Dini, sekarang saja kamu ungkapkan perasaan kamu padanya, sebelum dia masuk rumah.”
            “Aku malu, Zam. Nanti saja jika aku sudah siap mengatakannya.”
            “Ya sudah, sekarang kita pulang ya. Tadi ibumu menyuruh untuk pulang cepat kan.”
            “Baiklah, kita pulang sekarang. Sampai jumpa Irvan!”
            Senyumannya begitu menyentuh hatiku, dia menampakan kebahagiaan yang amat sangat setelah melihat Irvan, cowok yang disukainya. Hari ini aura dia berbeda sekali, aura kali ini sungguh baik bawaanya.
                               
          “Apa bu? Dini masuk rumah sakit lagi?”
            “Iya, Zam. Pagi tadi tiba – tiba saja Dini serangan jantung. Azam bisa ke sini untuk melihat keadaannya?”
            “Baik bu, setelah Azam pulang kerja, Azam ke rumah sakit secepatnya.”
            Dini, kamu kenapa lagi? Bukankah kemarin kamu baik – baik saja? Kamu tersenyum saat ku antar kamu ke rumah Irvan. Kenapa Din?
                               
          “Ibu, bagaimana keadaan Dini sekarang? Boleh saya masuk untuk melihatnya?”
            “Dini butuh perawatan intensif lagi. Boleh masuk, akan lebih baik kamu temani Dini. Tadi Dini sempat memanggil namamu, nak.”
            “Dini, ini aku Azam. Aku datang untuk menemanimu. Kamu kenapa Din?”
            Aku harap perawatan ini untuk terakhir kalinya. Aku sedih melihat Dini yang selalu keluar masuk rumah sakit. Dini yang dikelilingi alat – alat medis jika dapat perawatan intensif. Aku benci melihatnya. Dini, aku akan selalu menemanimu dan menjagamu. Ku berharap kamu bisa hidup layaknya manusia biasa.
                               
          “Dini, sekarang sudah pagi. Pagi ini aku tidak bisa berbagi waktu denganmu. Aku harus bekerja dulu. Mungkin sore aku baru akan menemanimu lagi. Maaf ya Sahabat.”
            Berat rasanya aku meninggalkan Dini. Aku melihat ia mengeluarkan air mata, aku tak tahu apa maksudnya.
                               
          Tak terasa dua bulan sudah terlewati. Aku bersyukur Dini telah sadar dari tidurnya yang lama. Aku ingin berbagi sesuatu padanya agar Dini bahagia dekat denganku.
            “Zam, ternyata kamu di sini.”
            “Iya, aku sempatkan waktuku untuk menemanimu. Kamu baik – baik saja kan?”
            “Oh, terimakasih ya. Iya, aku sudah merasa enakan kok.”
            “Din, hari ini kan hari Minggu. Itu artinya aku punya waktu seharian bersamamu. Kita bercerita saja ya!”
            “Iya, aku senang memiliki sahabat setia sepertimu. Cerita apa ya? Aku bingung.”
            “Hehe, bagaimana kamu masih teringat sama Irvan?”
            “Ah, kamu masih ingat juga. Dalam hatiku dan dalam pikiranku masih teringat Irvan.”
            “Cie – cie. Hehe.”
            “Apa sih, tidak usah menggodaku deh. Kamu sendiri bagaimana? Siapa cewek yang kamu suka?”
            “Ada deh, yang pasti sekarang aku masih jomblo. Memang kenapa?”
            “Oh. Aku suka sama kamu, Zam.”
            “Tidak salah? Bukankah kamu suka dengan Irvan?”
            “Iya aku menyukai Irvan, tapi aku juga memiliki perasaan yang lebih sama kamu. Kamu sudah setia menemaniku terus. Azam mau tidak jadi pacar aku?”
            “ Emh, bagaimana ya? Aku mau jadi pacar kamu.”
            “Terimakasih Zam. Aku sayang kamu.”
            Sebenarnya aku menganggap Dini sebagai sahabat saja. Tapi aku bersedia menerimanya untuk membahagiakan dia. Dini maaf aku telah berbohong padamu.
                               
Lima minggu sudah aku menjadi pacarnya. Selama itu aku dan Dini saling berbagi kasih sayang, walau aku hanya menganggap dia sebagai sahabat. Aku merasakan hal yang berbeda pada Dini. Dia menjadi ceria, selalu tersenyum dan tertawa bersamaku. Sepertinya Dini sudah melupakan rasa sakitnya dan Irvan.
“Dini, hari ini kamu boleh pulang.”
“Boleh pulang bu? Asyik, akhirnya Dini bisa terbebas dari kurungan yang bau obat ini. Azam, kamu temani aku pulang ya.”
“Dengan senang hati Din. Aku akan temani kamu sampai ke rumah.”
“Senangnya aku bisa berkumpul dengan keluargaku lagi. Zam, nanti kamu sering – sering datang ke rumahku ya!”
“Pastinya Dini sayang.”
Kegembiraannya, kegembiraanku juga. Dini, teruslah tersenyum dengan bibir manismu itu.
                               
“Azam, ini Dini. Bisa ke rumahku sekarang?”
“Okay Din, sekarang juga aku ke sana. Tunggu aku ya!”
Senangnya aku menerima telepon dari Dini. Sudah lama aku tidak menerima telepon darinya walaupun aku sering bertemu dengannya.
“Dini, Azam datang.”
“Azam, silakan masuk. Aku kangen sama kamu.”
“Iya, sama aku juga kangen sama kamu. Sehari nggak ketemu serasa setahun nggak bertemu.”
Hari ini aku bercanda dengan Dini, bersenda gurau, tertawa bersama, berbagi cerita dengannya. Sungguh aku bahagia hari ini. Tapi sayangnya waktu memisahkan aku dengan Dini. Sore ini aku harus kerja, dan kebetulan lembur sampai pagi. Sedih harus berpisah.
                               
“Zam, Dini. Dini telah menghembuskan nafas terakhir tadi pagi.”
“Apa, bu? Kenapa?”
“Dini tiba – tiba serangan jantung lagi. Cepat nak Azam ke rumah. Kami sekeluarga menunggu Azam.”
“Baik bu.”
Dini meninggal? Aku belum percaya. Kemarin aku dan Dini masih bercanda. Mengapa begitu cepat Dini meninggalkanku?
Banyak sekali orang di depan rumah Dini. Lalu apa itu kertas kuning yang mengibar di rumah Dini? Benarkah Dini meninggal?
“Ibu, Dini dimana?”
“Di ruang tengah nak. Ibu tidak kuat melihatnya.”
“Dini, Dini… kenapa kamu meninggalkanku begitu cepat?”
                               
          Tiga bulan sudah kepergian Dini. Aku sedih dan sedih. Tiada kata yang bisa ku ucap selain sedih. Hari ini aku dan teman – teman Dini termasuk Irvan mengunjungi kuburan Dini. Aku sudah siapkan seikat bunga mawar merah kesukaannya.
            Dini, maafkan aku. Semoga kamu bahagia di sisiNya. Aku akan mendoakanmu selalu. Aku sayang kamu sahabatku. Sudah takdir kita berhenti untuk berbagi kasih sayang. Tapi aku akan tetap menyayangimu selalu dan selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar