Surat ini aku dapat ketika
aku sedang melaksanakan observasi di salah satu SLB-E atau Sekolah yang khusus
menangani anak tunalaras. Ketika itu aku lihat seorang siswa yang duduk di
paling ujung depan kelas (IIIV) terlihat sedang membaca sebuah buku romansa
islami. Rupanya manis, tidak terlihat ia bermasalah. Begitu perkenalan dimulai,
senyum yang tergariskan di wajahku dan di wajahnya. Bersalaman, saling
mengenalkan nama. Ku samarkan namanya menjadi MAN.
Ku tanya ia
tentang buku yang ia baca, awalnya malu-malu. Mungkin karena ia seorang
laki-laki yang membaca kisah romansa. Lalu, ku pancing dengan berbagai
pertanyaan mengenai buku itu. Dengan antusiasnya ia mulai bercerita sedikit apa
yang sudah ia baca.
Setelah ia
mau terbuka denganku, ia mulai mengajukan pertanyaan yang cukup kritis,
"Ka, Kenapa sih mau ngajar di sekolah kaya gini? Kan murid-muridnya nakal.
Lebih enak jadi guru di sekolah biasa, bisa diatur murid-muridnya."
Aku sempat
terdiam sesaat karena pertanyaan ini membuatku terkagum tapi juga bingung
menjawabnya. "Hmm, kalau ngajar di sekolah biasa sudah nggak aneh. Justru
kakak tertantang ngajar di sekolah seperti ini yang harus menghadapi
murid-murid yang susah diatur hehehe...." jawabku singkat.
Perbincangan kami pun mulai mengasyikkan. aku memposisikan diri menjadi
pendengarnya. Ia sangat semangat menceritakan kehidupan ia di asrama,
permasalahan ia dengan teman-temannya, keadaan ia di sekolah sampai riwayat
keluarganya dan masih banyak lagi dengan tanpa henti.
Aku mulai
berani untuk mengajukan pertanyaan yang menjurus tentang kasusnya, "MAN,
kenapa kamu bisa masuk kesini? Memang apa yang sudah kamu lakukan?"
tanyaku secara gamblang.
"Saya
nusuk teman sekelas saya kak. tapi nggak sampai mati kok," jawabnya dengan
santai.
Benar-benar
kaget, ternyata aku berhadapan dengan anak yang cukup berat kasusnya.
Kutanyakan alasan ia melakukan itu dia bilang dia sudah habis kesabaran karena
sering diolok-olok oleh temannya itu. Sehingga ia berencana untuk menususk
temannya dengan bekal sebilah pisau yang ia bawa dari rumah. Lalu ia menusuk
temannya itu di tempat yang cukup jauh dari sekolahnya yang ketika itu ia masih
kelas 5 SD.
Aku
menanyakan apa yang ingin ia lakukan setelah ini dan bagaimana perasaan ia
sekarang setelah ia melakukan hal itu. MAN pun hanya seorang anak biasa, ia
merasa menyesal dan ketakutan untuk kembali ke daerah atau tempat yang ia
pernah melakukan hal keji itu. Ia ingin pulang dan berkumpul kembali bersama
ibunya. Inilah surat yang ditulis oleh MAN saat ku minta ia menuliskan sesuatu.
Ingin keluar dan cepat pulang dan
ingin berkumpul bersama keluarga lagi…
Main bersama teman dan sekolah di luar
Dan ingin mengenal suasan baru dan jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, nusa dan bangsa
Aminn…
Saya ingin menjadi TNI Angkatan Darat karena saya ingin menjadi orang yang berbakti kepada Negara
Dan membahagiakan orang tua
Semoga saya menjadi orang yang benar dan menjadi anak yang saleh.
Semoga cita-cita terkabul…
Dengan saya ingin mewujudkan cita-cita saya hanya belajar, shalat dan meminta pertolongan kepada Allah semoga keinginan saya terkabul.
Biar orang tua saya melihat saya menjadi anak idaman
Yang selama ini dilihat nakal menjadi anak yang sukses
Semoga cita-cita saya terkabulkan…
Main bersama teman dan sekolah di luar
Dan ingin mengenal suasan baru dan jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, nusa dan bangsa
Aminn…
Saya ingin menjadi TNI Angkatan Darat karena saya ingin menjadi orang yang berbakti kepada Negara
Dan membahagiakan orang tua
Semoga saya menjadi orang yang benar dan menjadi anak yang saleh.
Semoga cita-cita terkabul…
Dengan saya ingin mewujudkan cita-cita saya hanya belajar, shalat dan meminta pertolongan kepada Allah semoga keinginan saya terkabul.
Biar orang tua saya melihat saya menjadi anak idaman
Yang selama ini dilihat nakal menjadi anak yang sukses
Semoga cita-cita saya terkabulkan…
Mari kita
aminkan semua doa dan harapan ia dalam surat ini. Agar kelak ia menjadi orang
yang baik dan bermanfaat bagi sesamanya.